jump to navigation

Peluang Bisnis Kotak Rokok Bermotif Januari 11, 2011

Posted by Raja Stationery in Peluang Bisnis.
trackback

kotak rokokJumlah perokok aktif di Indonesia yang terus bertambah membuat penjualan kotak rokok kayu bermotif lebih bergairah. Pembuatnya pun ikutan bertambah karena peminat kotak rokok makin banyak. Motifnya beragam, mulai etnik, kaligrafi sampai gambar tokoh nasional.

Asap rokok mengebul di mana-mana, merupakan pandangan yang sangat lumrah di Indonesia. Maklum, negara kita memiliki perokok aktif terbanyak ketiga di dunia.

Biar kelihatan lebih keren, sebagian perokok menaruh batang-batang rokoknya di kotak khusus. Selain lebih bersifat personal dan eksklusif, kotak rokok juga menangkal risiko rokok rusak atau patah.

Bentuk boleh sama-sama kotak, tapi sekarang ini ada pelbagai desain dan gambar di kotak-kotak rokok produksi lokal. Mulai dari motif batik, merek rokok, gambar tokoh terkenal, hingga kaligrafi.

Tengok saja kotak rokok buatan Ahmad Zamroni. Pemilik Zamzam Gallery di Jepara, Jawa Tengah ini telah memproduksi kotak rokok dengan motif sejak tahun 2000 lalu.

Zamroni memproduksi dua jenis kotak rokok. Pertama, kotak rokok dengan desain seperti bungkus rokok merek tertentu, sebut saja Marlboro, Gudang Garam, Surya Mild, dan Sampoerna A Mild. Kedua, desain dengan gambar kaligrafi.

Awalnya, Zamroni mengungkapkan, ia hanya membikin desain kotak rokok berdasarkan merek-merek rokok terkenal. Namun, suatu hari, dia mendapat pesanan dari pedagang grosir di Aceh yang memintanya mendesain kotak rokok dengan tulisan kaligrafi. Jadilah, sejak itu ia mulai membuat desain kedua sampai sekarang.

Zamroni menuturkan, pelanggannya terdiri dari pembeli grosir dan penikmat rokok yang memesan langsung kepadanya. Pembeli ritel yang kebanyakan perokok memesan kotak rokok untuk mereka pakai sebagai tempat penyimpan rokok. Tapi, ada juga pembeli ritel yang memesan kotak rokok untuk koleksi. “Soalnya, bentuknya bagus dan unik,” ujar Zahroni.

Adapun pemesan desain kaligrafi kebanyakan adalah pasangan yang mau menikah untuk suvenir perkawinannya. “Mereka juga minta nama mereka di desain,” ujar Zamroni.

Pesanan kotak rokok dengan motif kaligrafi banyak datang antara bulan haji dan sebelum Ramadan. Di bulan-bulan itulah banyak order untuk suvenir pernikahan.

Saat itu, omzet penjualan kotak rokok kaligrafi buatan Zamroni meningkat 50% dibanding bulan biasanya, dari hanya Rp 10 juta menjadi Rp 15 juta. Produksinya pun naik dari 800 kotak rokok menjadi 1.500 buah.

Tak kalah kreatif, Slamet Widodo, pemilik Shely Handycarft di Klaten, Jawa Tengah, membuat kotak rokok dengan motif bernuansa etnik, seperti motif melayu dan pahatan jawa.

Selama ini, Zamroni membuat kotak rokok dari bahan kayu sonokeling. Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadikan kayu ini lebih unggul. Misalnya, kayu jenis ini keras. Serat kayunya yang berwarna kehitaman pun menarik bagi konsumen. “Kayu sonokeling juga tidak mudah dimakan rayap,” ungkap Zamroni.

Pembuatan kotak rokok dimulai dengan pemotongan kayu gelondongan dengan gergaji mesin hingga ketebalannya 1 centimeter (cm). Setelah itu, kayu dimasukkan ke oven untuk mengeringkan air di dalam kayu. Kayu yang sudah dioven lalu didesain sesuai pesanan pelanggan.

Untuk urusan pembuatan kotak Zamroni menyerahkannya ke tukang kayu. Prosesnya, pertama-tama kayu diserut dengan menggunakan ketam agar halus. Potongan-potongan bagian kayu ini dirakit menjadi kotak.

Kotak rokok setengah jadi ini kemudian disemprot dengan woodmill untuk menutupi pori-pori. Setelah itu, kotak rokok diwarnai dengan melanin dan terakhir dipres sablon agar warna tidak mudah pudar.

Menurut Zamroni, keunggulan produknya ada pada pengerjaan yang detail. “Kalau produsen lain, ada yang desainnya tidak persis dan sablonan catnya tidak rapi,” ungkap dia.

Zamroni mengatakan, dia masih ingin konsentrasi di pasar lokal. Di Indonesia, penjualan kotak rokoknya sudah menembus Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Aceh, Medan, dan Palembang. Sekitar tahun 2000 pernah ada orang Malaysia yang mengimpor produknya. Tapi pesanan itu tidak berlanjut. “Pasar lokal saja sudah banyak pesanan,” ucap Zamroni senang.

Farian pembuat kotak rokok yang berlokasi di Bandung juga merasakan berkah dari tingginya angka perokok di di Indonesia. Dia mengaku mampu meraih untung hingga Rp 17,5 juta setiap bulannya jika mampu menjual 500 kotak.

Namun, belakangan ini omzet Farian menurun. Ia pernah meraih penjualan terbaik tiga bulan lalu dengan 1.000 kotak seharga Rp 35.000 per kotak. Harga kotak rokok buatan Farian memang mahal karena dia juga melengkapi produk-produknya dengan lighter atau korek api.

Farian bilang, penurunan penjualan ini karena makin banyaknya pembuat kotak rokok dengan motif dan gambar menarik serta harga yang lebih murah. “Peminat dari kotak rokok ini makin tinggi,” ungkap dia.

Setahun lalu, belum terlalu banyak yang membuat kotak rokok. Tapi sekarang, para peminat kotak rokok makin banyak sehingga pembuatnya pun bertambah. “Dulu, ketika ingin memiliki kotak rokok, kita harus pesan terlebih dahulu, tapi sekarang sudah banyak di pasaran dan harganya lebih murah,” keluh Farian.

Untuk memenangkan persaingan, Farian pun memangkas harga jual kotak rokok bikinannya menjadi
Rp 20.000 per unit. Ia juga memesan produk sejenis dari China yang harga jauh lebih murah ketimbang membuat sendiri. Untung dari penjualan kotak rokok pun jauh lebih tinggi.

Meskipun mendatangkan produk dari China, Farian menyatakan, kotak rokok buatan lokal masih menjadi primadona, sekalipun harganya sedikit lebih mahal. Sebab, kotak rokok produksi lokal lebih memiliki banyak pilihan karena pilihan gambarnya lebih beragam.

Dulu, motif yang pernah tenar, misalnya, kotak rokok bergambar merek rokok, serta lambang dan tulisan Harley Davidson. Sekarang, banyak pembeli yang memesan kotak rokok bergambar tokoh-tokoh terkenal Indonesia, seperti Soekarno atau Bung Karno, Presiden RI Pertama.

Selain dapat memilih gambar atau motif, para pecinta kotak rokok bisa menambahkan nama atau kata-kata yang ditujukan untuk seseorang sebagai kado. Untuk mendapatkan ukiran yang berbeda dari yang lain, memang perlu waktu pesanan lebih lama ketimbang motif yang sudah tersedia, meskipun tidak ada tambahan biaya yang harus dirogoh para pembeli. (peluangusaha.kontan.co.id)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: