jump to navigation

Strategi Pemasaran Dengan Kemasan Cantik Januari 6, 2011

Posted by Raja Stationery in Tips Bisnis.
trackback

Kemasan produk yang bagus menjadi salah satu strategi jitu dalam dunia pemasaran. Maklum, kemasan yang unik dan cantik seringkali menjadi pertimbangan utama konsumen dalam membeli sebuah barang. Apalagi, untuk produk-produk yang membidik pasar kelas menengah ke atas. Dengan melihat kemasan saja, mereka akan menilai kualitas produk di dalamnya.

Seperti pada beragam produk lainnya, kemasan pada produk makanan dan minuman turut berperan penting untuk mendongkrak nilai jual. Sebab, selain rasanya yang enak, kemasan yang rapi dan unik bisa menambah keyakinan konsumen untuk membeli produk tersebut.

Contohnya produk gula aren organik milik Big Tree Farms. Perusahaan yang berdiri tahun 2000 di Bali ini, membungkus berbagai produk makanan organik tradisional dengan kemasan daur ulang yang artistik.

General Manager Big Tree Farms, Wahyu Sriningsih, mengatakan, setiap produknya merupakan produk istimewa karena memiliki sejarah dari sisi sumbernya. “Demikian pula prosesnya. Setiap produk harus melalui tahapan proses yang tidak mudah,” ujarnya.

Nah, Big Tree Farms ingin memperlihatkan semuanya itu pada konsumen. “Kami ingin membuat seluruh rangkaian proses tersebut mulai dari ide penciptaan, produksi, dan hasil akhir menjadi produk yang sempurna, dengan membuat kemasan yang sesuai dengan nilai produk tersebut,” kata Wahyu.

Beberapa produknya antara lain gula aren, lada, madu, kacang mede hingga garam laut. “Kami mengeluarkan biaya sekitar 0,037% dari total nilai penjualan untuk biaya kemasan,” ujarnya.

Selain pengemasan yang unik, Big Tree Farms juga memberi sentuhan rasa jahe atau kunyit dalam gula aren tersebut sebagai varian rasa. “Supaya rasa tradisionalnya lebih terlihat,” tutur Wahyu. Produk yang dikemas dalam tabung berbahan kertas coklat dengan ukuran berat 8,5 ons ini dibanderol seharga US$ 8,99.

Begitu juga untuk produk madu. Produk ini dikemas dalam botol bertutup kain. Harga jual per botol ukuran 10,5 ons sebesar US$ 9,99.

Selama ini Big Tree Farms menjual berbagai produknya di Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia dan Asia. Sementara untuk pasar lokal hanya di daerah tertentu. “Untuk penjualan di sekitar Bali, produk Big Tree Farms bisa diperoleh di Lotus, yang merupakan distributor utama kami,” kata Wahyu. Kalau di Jakarta, produk ini bisa didapat di Ranch Market dan Alun-alun Indonesia.

Setiap tahun, Big Tree Farms memproduksi rata-rata 600 ton gula aren. Adapun produksi cocoa bean berkisar 100 ton dan cocoa butter 24 ton.

Selain itu, produksi garam mencapai 12 ton per tahun. Produksi kacang mede hingga 36 ton per tahun dan madu 5 ton per tahun.

Big Tree Farms tak mengolah produk-produk ini sendiri. Mereka hanya menyediakan bahan baku untuk kemudian diolah oleh pengusaha-pengusaha binaannya. Misalnya gula aren, Big Tree Farms memasok bahan baku dari kebun kelapanya di Yogyakarta yang mempunyai luas 1.000 hektare.

Sedangkan untuk kacang mede dipasok dari kelompok tani di daerah Bali dan Flores, dengan total luas lahan 600 hektare. Adapun produk kakao dipasok oleh petani dari Bali dan Aceh, yang punya lahan seluas 381 hektare.

Hanya produk madu saja yang bukan berasal dari binaan Big Tree Farms. “Kami mendapat pasokan madu dari kelompok tani yang dibina oleh pemerintah,” ujar Wahyu.

Pentingnya pengemasan yang rapi dan apik juga diakui oleh Indrawanto, pemilik CV Diva Maju Bersama, yang memproduksi gula aren Arenga. “Dari kemasan, pembeli melihat kesan kalau produk ini bukan produk asal-asalan,” katanya.

Kini, gula aren Arenga yang semula hanya dibungkus plastik bening, telah dikemas dengan plastik lebih tebal serta kemasan aluminium foil.

Indrawanto menyatakan, pengemasan ini memakan biaya sekitar 25% hingga 30% dari harga jual produk. Saat ini, harga produk gula Arenga ukuran berat 250 gram berkisar Rp 8.000 hingga Rp 15.000 dan tergantung lokasi penjualan.

Selain menjual produk di toko-toko makanan organik lokal, Indrawanto juga memasarkan gula arennya di pasar ekspor. “Ada pembeli yang kemudian mengekspor ke Eropa dan Taiwan,” kata Indrawanto. (peluangusaha.kontan.co.id)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: