jump to navigation

Peluang Bisnis Sekolah Buat Anak Balita Januari 6, 2011

Posted by Raja Stationery in Peluang Bisnis.
trackback

Keinginan untuk memberi pendidikan yang terbaik untuk anak sejak dini di tengah kesibukan orang tua berkerja, membuat bisnis kelompok bermain atau playgroup laris manis. Khususnya di kota-kota besar. Jumlah playgroup pun menjamur, bahkan muncul pemain baru yang menyesaki pasar dan makin memperketat persaingan.

Meski demikian, pemain lama bisnis ini tetap bertahan. Hanya saja, mereka tak tumbuh dengan cepat. Tapi, pelbagai upaya ditempuh untuk memberi kualitas pendidikan yang terbaik bagi para balita yang menjadi pasar utama yang mereka sasar.

Nah, di tengah persaingan yang ketat, konsumen sudah barang tentu akan memilih yang terbaik. Begitu pula dengan Anda yang ingin menjajal bisnis pendidikan khusus anak di bawah lima tahun ini. Kami mencoba mengulas kembali beberapa playgroup yang menawarkan waralaba sekolah si kecil itu.

• Tumble Tots

Waralaba playgroup yang berasal dari Inggris ini mulai masuk ke Indonesia pada 1993. PT Montessori Mazmur Indonesia menjadi country franchisor di negara kita. Montessori Mazmur kemudian menawarkan waralaba kepada investor-investor dari dalam negeri untuk menjadi sub- franchisee.

Saat ini, ada sekitar 40 cabang Tumble Tots di penjuru negeri. Ketika KONTAN mengulas waralaba Tumble Tots pada Agustus 2009 lalu, Tumble Tots memiliki 51 cabang.

“Perbedaan jumlah ini bukan karena berkurang atau ditutup, tapi diubah menjadi Leaps and Bounds, second line dari Tumble Tots untuk daerah tingkat dua agar tarifnya dapat dijangkau oleh masyarakat di kelas C,” kata Olivia Siahaan, Marketing Tumble Tots Indonesia.

Tumble Tots menawarkan tiga program. Yakni, program dari anak mulai belajar berjalan hingga usia dua tahun, program untuk anak usia dua hingga tiga tahun, dan dari usia tiga tahun hingga usia anak masuk sekolah.

Tumble Tots Indonesia mengadopsi sistem pengajaran, metode, dan kurikulum dari pusat. Namun, sistem pengajaran tersebut tetap disesuaikan dengan budaya KITA di Indonesia.

Olivia menjelaskan, selama ini Tumble Tots mengedepankan integritas yang tinggi, inovasi, tim kerja yang solid, dan edukasi parenting yang berkesinambungan. Dengan sistem yang berjalan hingga saat ini, Tumble Tots yakin, waralaba pendidikan usia dini di Indonesia akan berkembang dengan baik. “Targetnya, kami memiliki 100 cabang di seluruh pelosok kota di Indonesia pada tahun 2011 sampai 2012,” imbuh Olivia.

Untuk membuka waralaba Tumble Tots, terwaralaba memerlukan biaya investasi sekitar Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. Biaya ini sudah termasuk biaya waralaba atau franchise fee Rp 150 juta untuk periode tiga tahun.

Tumble Tots memilih lokasi di pusat kota dengan luas arena minimal 200 meter persegi (m2). Luas area ini terdiri dari 100 m2 untuk arena bermain, dan dua ruangan untuk kindergarten, ruang penerima tamu, toilet anak-anak, ruang staf, serta dapur.

Olivia mengatakan, usaha playgroup di Indonesia memang masih potensial. “Kompetisi melahirkan pembaruan dan inovasi untuk semakin baik, tentunya dengan komitmen dan konsistensi yang tinggi,” ujar Olivia.

• Sanggar Kreativitas Bona

Kelompok bermain Sanggar Kreativitas Bona (SKB) termasuk pemain lama di bisnis playgroup. SKB yang sudah ada lebih dari 20 tahun lalu tidak menambah cabang sepanjang tahun 2010.

Saat ini, SKB berdiri di beberapa wilayah Jabotabek, yaitu Bintaro, Pangkalan Jati, Ciledug, Kemayoran, Bumi Serpong Damai, Rawamangun, Citraland, Depok, Daan Mogot, Cibubur, dan Boulevard Hijau Bekasi. “Tidak ada kenaikan yang signifikan, baik dari jumlah siswanya dan penambahan mitra dari Sanggar Kreativitas Bona,” ungkap Filomena Eti Rusiwiani, Manajer SKB.

SKB tetap mempertahankan keunikan dan ciri khas sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. “Ini supaya anak tidak bingung, tentunya anak akan lebih mudah berkomunikasi dengan bahasa ibu mereka,” ungkap Filomena.

SKB membagi kelas menjadi dua. Kelompok Cimut untuk anak dua tahun hingga empat tahun. Kelompok ini memberi pelajaran dasar sebelum sekolah. seperti mengenal huruf, angka, binatang, buah, melukis, balet, dan tambahan pendidikan bahasa Inggris dengan waktu 90 menit selama satu hingga dua kali sepekan.

Adapun untuk usia 5 tahun hingga 12 tahun masuk kelompok Upik. SKB memfokuskan pada ketrampilan, seperti menari tradisional, balet, sampai melukis dengan waktu 60 menit selama satu hingga dua kali dalam sepekan. Satu kelas berisi 15 anak.

SKB memungut uang sekolah per bulan sebesar Rp 275.000 hingga Rp 315.000. Sementara, uang pangkalnya sebesar Rp 2,75 juta.

SKB masih menawarkan kemitraan dengan nilai investasi sekitar Rp 300 juta hingga Rp 400 juta. Biaya waralaba atau franchise fee sebesar Rp 50 juta. Tingkat pengembalian modal investasi sekitar satu hingga dua tahun. “Jika manajemennya bagus, muridnya banyak, serta menjaga nama dan imaji SKB maka usahanya pasti berkembang,” kata Filomena berpromosi.

• Gymboree

Playgroup yang mulai ada di Indonesia sejak 1992 ini berasal dari Amerika Serikat. Dari sana pula, Gymboree Indonesia mengambil masterplan kurikulum yang terdiri dari tiga item, yaitu permainan, musik, dan seni.

Siswa bebas memilih sesuai dengan minat mereka dan memilih frekuensi kedatangan per minggu, mulai dari satu hingga tiga kali. Satu kelas berlangsung selama 45 menit. “Uniknya, orang tua boleh mendampingi selama belajar,” ujar Chistina Catherine, Marketing Manager Gymboree.

Hingga saat ini, Gymboree sudah memiliki 15 cabang yang tersebar di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Ketika KONTAN mengulasnya pada Agustus 2009 lalu, Gymbore baru memiliki 14 cabang.

Untuk membuka waralaba Gymboree, calon mitra perlu menyiapkan dana sekitar Rp 1 miliar untuk lokasi di perumahan dan sekitar Rp 3 miliar untuk lokasi di mal.
Gymboree memasang biaya pendaftaran Rp 600.000 hingga Rp 800.000, annual fee sebesar Rp 200.000. Selain itu, ada lagi iuran bulanan sebesar Rp 300.000 hingga Rp 900.000 tergantung dari kurikulum yang diambil dan banyaknya kelas yang diikuti.

Gymboree menyediakan fasilitas ruang kelas dengan peralatan dari kayu, vinil, dan plastik, serta aneka permainan untuk mengasah gerak motorik siswa. Pengajar Gymbore adalah sarjana psikologi atau keguruan dan wajib menguasai bahasa Inggris aktif dan pasif. Pengantar di kelas adalah bahasa Inggris. “Jadi, kami melatih siswa belajar bahasa Inggris sejak dini,” imbuh Catherine.

Usia murid mulai dari bayi umur 0 bulan hingga anak umur 5 tahun. Satu kelas berisi maksimal 12 anak. Catherine menjelaskan, selama ini setiap cabang memiliki anak didik antara 50 hingga 100 siswa. “Jumlah ini meningkat 30% dibandingkan tahun 2009,” kata Catherine. (peluangusaha.kontan.co.id)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: