jump to navigation

Strategi Pemasaran Kemasan Gelas Januari 5, 2011

Posted by Raja Stationery in Tips Bisnis.
trackback

Pertarungan produk minuman kemasan gelas plastik semakin sengit. Dengan harga sekitar Rp 1.000, pasar produk ini cukup gemuk. Apalagi, jenis kemasannya yang praktis membuat produk ini diminati anak-anak maupun kaum dewasa.

Minuman dalam kemasan mulai menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat. Sebagian besar orang hanya meminum air mineral di dalam kemasan. Namun, tak sedikit pula orang yang rutin menyedot minuman aneka rasa dalam kemasan gelas plastik.

Tentu saja, rasa favorit setiap orang berbeda-beda. Ada yang hobi menyeruput minuman rasa teh, ada yang rutin menyedot minuman kopi, ada pula yang tak pernah absen menenggak minuman rasa buah-buahan.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Franky Sibarani mengakui, permintaan minuman dalam kemasan gelas tumbuh cepat. Bahkan, pasarnya lebih stabil ketimbang produk makanan. Tahun lalu, pasar minuman siap saji tumbuh 10%, sementara pasar makanan hanya tumbuh 3%.

Dari sisi konsumen, harga yang murah menjadi alasan mereka menyukai produk ini. “Kemasannya juga cukup fleksibel karena sekali minum langsung buang,” kata Franky.

Produsen juga tak banyak berinvestasi. Selain itu, kemasan gelas plastik lebih menghemat biaya. Gampangnya, yang diperlukan industri minuman hanya mesin sealer untuk merekatkan penutup kemasan gelas. Ini sangat berbeda dengan kemasan tetra pack yang membutuhkan peralatan lebih banyak.

Salah satu pemain lama di bisnis ini adalah PT Tang Mas. Sejak 2002, pemilik merek Frutang ini telah memperkenalkan minuman rasa jeruk dan asam jawa. General Marketing & Sales PT Tang Mas Sambas Winata bilang, dengan harga jual eceran Rp 1.000, produknya bisa menjaring pasar lebih luas, yakni kalangan menengah–bawah.

Adu strategi

Sebagai pionir minuman gelas berasa, Frutang pernah mengalami masa puncak penjualan hingga 2005–2006. Kala itu, pertumbuhan penjualan Frutang gelas mencapai 30% setahun.

Tapi, lima tahun terakhir, pasar yang menjanjikan ini cepat menarik produsen lain. Pada 2007, dominasi Frutang mulai goyah. “Produsen makanan mulai ikut memproduksi minuman seperti ini,” kata Sambas. Alhasil, laju penjualan Frutang gelas melorot tajam, dan kini hanya 5% per tahun.

Salah satu produsen yang menantang Frutang adalah Orang Tua Group (OTG). Sejak 2007, OTG meluncurkan produk Teh Gelas. Minuman dalam kemasan 190 mililiter (ml) ini juga dijual seharga Rp 1.000. “Kami melihat potensi pertumbuhan pasarnya meningkat terus,” kata Manajer Hubungan Masyarakat Orang Tua Group (OTG) Yuna Eka Kristina.

Meski enggan menuturkan besaran penjualan, Yuna bilang, Teh Gelas telah menyumbang penjualan terbesar ketiga dari seluruh produk buatan OTG. Teh Gelas hanya kalah dari Wafer Tango dan Sikat Gigi Formula. Selain Teh Gelas, OTG juga punya produk minuman dalam gelas lain bernama Fruzz.

Produsen lain yang tak kalah agresif adalah Garuda Food. Sejak 2005, Garuda memproduksi Mountea. Respons pasar terlihat dari angka pertumbuhan penjualan Mountea yang cukup baik. Meski enggan menyebut jumlahnya, Erwin Panigoro, Senior Brand Manager PT Garuda Food, menyebut, Mountea yang menyasar anak-anak dan remaja memberi kontribusi cukup besar bagi grup.

Kini, produsen beradu strategi untuk menguasai pasar. Salah satunya dengan iming-iming hadiah langsung. OTG, misalnya, menggelar promo Gelegar Kebaikan Teh Gelas. Promo ini menjanjikan hadiah rumah, mobil, dan motor. Konsumen bisa menemukan tanda hadiah itu di balik tutup kemasan. Dengan market sharesebesar 20% dari seluruh minuman dalam kemasan siap saji, OTG menargetkan pertumbuhan penjualan 10% tiap tahun.

Tang Mas memilih melakukan inovasi produk. Sambas bilang, sejak tiga bulan lalu, Frutang mengeluarkan minuman gelas dengan bulir jeruk. Harga jual produk ini juga sekitar Rp 1.000. “Kami juga sedang menyiapkan varian baru lain,” ungkapnya.

Garuda Food tetap setia pada jalur minuman teh siap saji. Tapi, ada tambahan campuran rasa buah. Kini, Mountea memiliki beberapa varian rasa seperti teh rasa apel, kismis hitam (blackcurrant), jambu (guava), stroberi, dan buah persik. Erwin mengklaim, saat ini, Mountea menguasai hampir 70% pasar minuman teh rasa buah. (peluangusaha.kontan.co.id)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: