jump to navigation

Peluang Bisnis Keripik Singkong Januari 5, 2011

Posted by Raja Stationery in Peluang Bisnis.
trackback

Salah satu camilan populer di negeri ini adalah keripik singkong. Selain enak di lidah, bahan baku yang mudah didapat membuat camilan ini berprospek cerah. Alhasil, salah satu produsennya bisa memiliki omzet Rp 50 juta per hari.

Keripik singkong merupakan makanan yang sudah sangat akrab di telinga maupun lidah masyarakat Indonesia. Camilan ini dibuat dari singkong yang diiris tipis dan digoreng dengan variasi rasa yang berbeda-beda.

Bahan baku singkong yang mudah didapat dan pasar dalam negeri yang sangat besar, membuat banyak pemodal tertarik menjalankan bisnis ini. Tak heran jika produk keripik singkong dari luar negeri juga mulai merambah masuk ke pasar lokal.

Di tengah ancaman itu, produsen lokal tetap bisa eksis membesarkan usahanya. Seperti Frans Darmadi, pemilik PT Universal Cipta Pangan di Jakarta. Sejak akhir 2008, ia menjajal peruntungan bisnis di sektor makanan ringan dengan memproduksi camilan singkong olahan dalam kemasan. “Kami ingin mengangkat citra makanan tradisional ini masuk ke pasar modern,” ungkapnya.

Untuk memperoleh pasokan bahan baku singkong, Frans bekerja sama dengan petani singkong di Sukabumi. Dia memilih singkong mangu sebagai bahan baku, dengan kebutuhan mencapai 200 ton singkong saban bulan.

Dari bahan baku singkong sebanyak itu bisa dihasilkan sekitar 30 ton keripik singkong olahan kemasan siap jual. Ada tiga ukuran kemasan, yaitu 185 gram (gr), 60 gr dan 20 gr. Harganya berkisar Rp 1.000-Rp 10.000 per bungkus. Menurut Frans, varian rasa keripik singkong yang paling digemari adalah rasa daging panggang, keju bakar dan ayam lada hitam.

Ia mengaku kapasitas produksi sebanyak itu terserap seluruhnya oleh pasar. Apalagi sejak tahun lalu, Frans berhasil memasukkan produk camilan singkong bermerek Kingkong ke toko ritel modern. Seperti Alfamart, Lotte Mart, Hero dan Carrefour.

Bahkan, di tahun yang sama, ia sudah berhasil mengekspor keripik singkong ke luar negeri, seperti Australia, Singapura, India, Brunei Darussalam, hingga Afrika Selatan. Sekitar 25% dari total penjualannya ditujukan ke negara-negara tersebut. Sayang, Frans enggan menyebutkan omzetnya per bulan.

Produsen olahan singkong lokal lainnya yang cukup berhasil adalah keripik singkong merek Lumba-Lumba. Pembuatnya adalah Sutjipto dari Malang, Jawa Timur, sejak tahun 1998.

Fajar Wijayako, sang adik, menuturkan, kakaknya membutuhkan bahan baku singkong sekitar 9 ton per hari. Singkong yang digunakan adalah jenis meranti ketan. Singkong jenis ini paling baik tumbuh di dataran tinggi yang banyak terdapat di daerah Malang. “Singkong jenis ini rasanya lebih gurih dibandingkan yang lain,” katanya.

Dari 9 ton singkong bisa dihasilkan 7 ton keripik singkong. Harga jual tiap bungkus Rp 10.000. “Omzetnya bisa mencapai Rp 50 juta per hari,” kata Fajar.

Selama ini keripik singkong merek Lumba-Lumba banyak dijual di hampir seluruh wilayah Jawa Timur. Bahkan, Fajar mengklaim, di beberapa kota besar Jawa Timur seperti Surabaya dan Malang, merek keripik singkong Lumba-lumba sudah begitu familiar.

Selain produsen keripik singkong yang untung, diharapkan para petani singkong pun bisa menikmati tetesan rezeki. “Yang juga penting, bagaimana membuat merek keripik singkong lokal menjadi raja di negeri sendiri. Bukan malah merek luar yang lebih dikenal,” tandas Fajar. (peluangusaha.kontan.co.id)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: