jump to navigation

Peluang Bisnis Brownies Martabak Januari 4, 2011

Posted by Raja Stationery in Peluang Bisnis.
trackback

Anda penggemar kue brownies dan martabak? Jika ya, pernahkah Anda menikmati panganan yang merupakan kombinasi keduanya? Jika belum, Anda bisa mencicipi dengan menyambangi Jalan Tole Iskandar, Depok, Jawa Barat.

Di sana, Anda akan menjumpai sebuah gerai makanan bernama Valentino’s. Gerai ini menyediakan menu makanan, yang proses pembuatannya merupakan perpaduan antara brownies dan martabak. Makanan ini terbuat dari bahan bakubrownies, tapi diolah seperti pembuatan martabak manis. Produknya pun diberi nama browniesmartabak.

Wien Setya, pemilik Valentino’s, baru menekuni usaha brownies martabak ini sejak dua bulan lalu. Di bawah bendera usaha CV Wien Setya, Wien menawarkan produk makanan ciptaannya itu dalam tiga ukuran, yakni loyang mini dengan diameter 10 centimeter (cm), reguler ukuran 18 cm, dan premium berdiameter 24 cm.

Harga brownies martabak mini sebesar Rp 6.000 per loyang. Adapun martabak ukuran reguler dan premium harganya Rp 20.000 dan Rp 33.000 per loyang.

Menurut Andre Mokoginta, General Manager Wien Setya, saat ini ada tujuh varian rasa brownies martabak. Yakni, rasa cokelat pisang, cokelat keju, cokelat kacang, cokelat stroberi, pisang keju, pandan keju kismis, dan jeruk kismis.

Dalam memasarkan brownies martabak, Valentino’s membidik target pasar menengah ke atas. Maklum, harga brownies martabak untuk ukuran reguler dan premium terbilang mahal dibandingkan dengan harga jual makanan sejenis.

Sebenarnya, kata Andre, brownies martabak ditargetkan menjadi jajanan buah tangan alias oleh-oleh. “Sebab, makanan ini bisa bertahan tiga hingga empat hari,” katanya sembari berpromosi.

Dia menambahkan, kendati usaha ini baru berjalan sejak dua bulan lalu, penjualannya sudah cukup moncer. “Kami bisa menjual brownies martabak sekitar 25 loyang per hari,” kata Andre.

Dia mengakui, saat ini usaha yang dirintis perusahaannya belum balik modal (BEP). Perhitungannya, Valentino’s baru akan mencapai BEP dalam waktu empat bulan setelah usaha berjalan.

Cepatnya perputaran balik modal itu membuat manajemen Valentino’s percaya diri membuka tawaran kemitraan sejak awal bulan ini. Gayung pun bersambut. Saat ini, sudah ada 15 calon mitra yang tertarik menekuni usaha brownies martabak. “Dua di antaranya akan membuka gerai Oktober ini,” katanya.

Kedua mitra tersebut akan membuka gerai masing-masing di Semarang, Jawa Tengah dan Surabaya, Jawa Timur. Di Semarang, mitra Valentino’s akan membuka satu gerai dalam bentuk ruko.

Bagi calon mitra yang berminat berbisnis brownies martabak, Wien menawarkan dua paket kemitraan.Pertama, kemitraan berkonsep ala miniresto dengan nilai investasi awal Rp 98 juta. Kedua, kemitraan berbentuk booth, nilai investasinya Rp 32 juta.

Biaya investasi awal untuk kedua tipe kemitraan itu sudah termasuk franchise fee sebesar Rp 5 juta selama lima tahun. “Jika dalam waktu empat bulan mitra tidak berhasil meraih balik modal, kami akan mengembalikan franchise fee,” imbuh Andre.

Dengan biaya investasi yang dikeluarkan, mitra akan mendapatkan satu gerai, sejumlah peralatan serta perlengkapan usaha. Di antaranya, dua loyang berukuran 18 cm dan 24 cm, satu loyang mini, dua tabung gas, meja masak, bahan baku dan kemasannya, seragam, serta peralatan lainnya.

Agar bisa balik modal dalam empat bulan, Andre menargetkan si mitra mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 600.000 per hari dan laba sekitar Rp 6,77 juta per bulan.

Survei dulu selera pasar

Pemerhati dan konsultan waralaba dari Proverb Consulting Erwin Halim menilai, untuk menjalin kemitraan di bisnis seperti brownies martabak, calon mitra harus meneliti terlebih dahulu rekam jejak usaha tersebut dan laporan keuangannya. “Itu minimal selama setahun,” ujarnya.

Menurut Erwin, cara tersebut perlu dilakukan agar calon mitra dapat mengukur waktu mencapai titik impas investasi yang dikeluarkan.

Dia menilai, peluang bisnis makanan tetap menggiurkan untuk dijalankan oleh investor. Namun, calon mitra harus pandai menangkap selera pasar. “Jangan asal membuat produk makanan tanpa diuji pasar. Kalau konsumen tidak suka, bisnis itu malah bisa tidak laku,” tandasnya.

Jadi,sebaiknya calon investor melakukan survei selera pasar yang akan menjadi objek usahanya terlebih dahulu. “Kan produk ini masih tergolong baru di lidah konsumen,” cetus Erwin.

Jangan sampai peluang bisnis ini hanya laku di awal, setelah itu ditinggal oleh pelanggan yang merasa asing dengan produk makanan itu. “Segmen pasar juga harus jelas, baik dari skala ekonomi, umur atau status sosialnya,” ujarnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: