jump to navigation

Peluang Bisnis Kemitraan Pijat Refleksi Januari 2, 2011

Posted by Raja Stationery in Peluang Bisnis.
trackback

Pijat refleksi dapat membuat badan segar bugar. Bagaimana dengan berbisnis pijat refleksi? “Usaha ini bukan bisnis biasa karena menyangkut kesehatan seseorang,” kata ahli akupuntur, Ken Hermawan.

Sejak tahun 2000, dia membuka usaha Ken Hermawan Reflexology di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Awalnya, dia membuka usaha ini sekadar untuk memanfaatkan salah satu lantai tempat usahanya yang kosong. Sambil memberi pelayanan akupuntur, dia membuka usaha pijat refleksi.

Awalnya, Ken hanya memiliki empat terapis refleksi. Seiring perkembangan usahanya, jumlah terapis bertambah. Agar kualitas terapis terjaga, dia membuka pusat pelatihan untuk mencetak terapis. “Saya sendiri yang melatih para terapis,” imbuhnya.

Usaha pijat refleksi Ken kian berkibar. Dia mengaku, saban bulan ada sekitar 1.600 hingga 1.800 pelanggan yang mendatangi tempat usahanya di Kelapa Gading.

Ken mematok tarif pijat refleksi Rp 50.000 selama 90 menit. Di hari kerja biasanya ada diskon dari harga reguler. Terapis juga bisa dipanggil ke rumah pelanggan. Tentu, dengan harga yang berbeda.
Tempat milik sendiri

Sejak membuka usaha, Ken mengutamakan penambahan cabang dengan konsep waralaba. Dia hanya memiliki satu gerai refleksi di Kelapa Gading. Saat ini, Ken Hermawan Reflexology mempunyai tujuh cabang yang seluruhnya adalah waralaba. Enam terwaralaba di seputar Jakarta, dan satu mitra di Lampung.

Setelah Lebaran tahun ini, Ken bilang, terwaralaba di Bandung bakal mulai beroperasi. “Kami juga sedang memproses terwaralaba di Banjarmasin,” imbuhnya.

Untuk menjadi terwaralaba, Anda harus menyiapkan investasi awal Rp 150 juta. Duit ini termasuk franchise fee selama lima tahun senilai Rp 50 juta. Dengan investasi ini, terwaralaba mendapat fasilitas berupa izin usaha, peralatan operasional berupa minimal 10 kursi refleksi dan delapan terapis yang sudah lulus dari pusat pelatihan Ken. Investasi ini juga sudah termasuk biaya renovasi tempat.

Ken mengutamakan calon terwaralaba memiliki tempat sendiri. Kalau belum, dia menyarankan investor membeli tempat usaha dahulu. Upaya ini untuk menjamin kelangsungan usaha lantaran refleksi termasuk usaha jangka panjang. “Kalau tempatnya sewa, nanti malah berpikir bayar sewa terus,” ujar Ken.

Luas lahannya tidak terikat. Yang penting, bisa menampung 10 kursi terapi, ada ruang tunggu, ruang ganti, dan ruang istirahat untuk terapis.

Biaya paling besar di bisnis jasa ini adalah ongkos tenaga kerja atau terapisnya. Ken menyediakan minimal delapan terapis di awal usaha. Jumlah terapis ini bisa ditambah sesuai kebutuhan.

Para terapis mendapat uang kerajinan yang merupakan tanda ikatan kerja antara gerai refleksi dengan terapis. Selain itu, pendapatan terapis paling besar berasal dari komisi untuk penanganan pelanggan sebesar Rp 15.000 per orang. “Walau biaya pijat di bawah Rp 50.000 per orang, komisi mereka tetap,” kata Ken.

Masa balik modal usaha ini diperkirakan antara 20-24 bulan. Agar tercapai, terwaralaba minimal harus mendapat 15 pelanggan sehari. Ken mencontohkan, gerai di Tanjung Duren yang sudah 1,5 tahun menjadi terwaralaba melayani 1.500 pelanggan sebulan.

Setelah setahun beroperasi, Ken akan mengenakan royalty fee ke terwaralaba mulai tahun kedua. “Besarannya 7% dari omzet,” kata Ken. (peluangusaha.kontan.co.id)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: