jump to navigation

Peluang Bisnis Waralaba Pisang Goreng Januari 1, 2011

Posted by Raja Stationery in Peluang Bisnis.
trackback

Buah pisang memang banyak penggemarnya. Selain murah dan mudah didapat, pilihan menu berbahan pisang juga cukup beragam.

Karenanya, tak perlu heran jika gerai yang menjajakan kudapan pisang makin banyak bertebaran. Mulai dari yang berdiri sendiri, maupun yang menerapkan sistem waralaba atau kemitraan. Sebut saja, waralaba pisang goreng Ta B’Nana, pisang goreng Planet-Kripsy Kreme, ataupun waralaba pisang ijo Ala’din.

Tak mau ketinggalan, Eko Yulianto, pemilik CV Effa Indoboga, juga tengah agresif menawarkan kemitraan Mr. Piss. Ia bilang, usaha pisang goreng terus bermunculan lantaran penggemar pisang memang sangat banyak. Apalagi jika pisang goreng tersebut diolah dan dikemas secara khusus sehingga punya ciri khas.

Eko yang juga memiliki gerai Tela-Tela mengolah pisang goreng biasa dengan menambahkan berbagai pilihan rasa. Ada sekitar 14 rasa pisang goreng yang ditawarkan di Mr Piss. Sebut saja rasa pisang asli,blueberry, stroberi, cokelat, vanila, durian, lemon, greentea, mango, pinneaple, dan kopi. Bahkan, ada pula yang bercampur rasa talas.

Selain itu, pisang goreng Mr Piss disajikan dengan beberapa pilihan topping yang bisa menambah selera penikmatnya. Pisang Mr Piss ditaburi keju di bagian atasnya, keju bakar atau meses, serta meses bakar. Ada juga pisang berselimut keju, kombinasi, dan masih banyak lagi.

Kreasi itu membuat tampilan pisang goreng menjadi lebih menarik. Sepintas, pisang goreng Mr Piss terlihat seperti ayam goreng fried chicken. “Paduan rasa Mr.Piss, selain sangat menarik juga memanjakan lidah konsumen,” ujar Eko seraya berpromosi.

Dengan modal pilihan rasa yang beragam dan pernak-pernik pisang goreng Mr Piss itu, Eko memproklamirkan semboyan “Pisang Gaul Segudang Rasa” untuk produk pisangnya.

Tak hanya tampil menarik, Eko juga berusaha menyuguhkan kudapan yang sehat. Dia memasak pisang goreng itu dalam dua kali penggorengan. Menurutnya, cara ini akan meminimalkan kandungan minyak dalam makanan itu.

Dengan pilihan beragam rasa serta cara penggorengan yang berbeda, Eko membanderol pisang Mr Piss seharga Rp 4.000 per potong.

Investasi mini

Sejak dibuka pada awal 2009, saat ini Mr Piss sudah memiliki tujuh mitra yang tersebar di Yogyakarta, Makassar, Palembang dan Solo. Agar bisa berinvestasi di usaha goreng pisang Mr Piss, para mitra cukup mengeluarkan biaya investasi Rp 6 juta.

Perinciannya, sebesar Rp 4 juta untuk biaya pembelian booth, perlengkapan memasak, biaya promosi, serta untuk pemasaran. Adapun yang Rp 2 juta merupakan biaya pelatihan karyawan dan kepesertaan menjadi mitra.

Dalam hitungan Eko, dengan rata-rata penjualan 40 pisang per hari, modal yang dibenamkan itu bisa kembali dalam waktu enam bulan.

Aris, salah satu mitra Mr Piss di Solo, mengungkapkan, gerainya bisa menjual 50 pisang setiap hari. Ia menempatkan booth Mr Piss di dekat kampus. Namun, dia tak mematok keuntungan tinggi.

Aris memilih menjual pisang gorengnya hanya seharga Rp 3.500 per potong. “Bagi saya, yang penting saya bisa membuka lapangan pekerjaan dan orang rumah tidak bergantung sama saya,” kata pria yang juga pekerja kantoran itu. Artinya, saban bulan omzetnya hanya sebesar Rp 5,25 juta. Setelah tujuh bulan membuka gerai, modalnya baru bisa kembali.

Eko menuturkan, usaha ini mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan bisnis lainnya. Pertama, tentu saja nilai investasinya tergolong mini sehingga terjangkau untuk siapa pun. Kedua, Mr Piss mudah untuk dijalankan. Mitra tidak perlu memproduksi bahan baku sendiri sehingga dapat meminimalisir penyusutan bahan baku.

Selain itu, usaha Mr Piss mempunyai tingkat keuntungan yang sangat menggiurkan. “Bisa mencapai 50%,” ujar Eko. Menjual pisang goreng pun tergolong mudah karena sudah menjadi kudapan yang akrab di masyarakat. Harganya juga terjangkau.

Supaya tak menjamur, Eko berniat membatasi jumlah outlet yang ada. Tujuannya agar penjualan setiap gerai yang dimiliki mitra tetap terjaga. Ujungnya, para mitra bisa cepat balik modal alias break event point. “Bisnis yang kami jalankan ini juga tidak memungut biaya royalti,” imbuhnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: