jump to navigation

Peluang Bisnis Camilan Sagu Januari 1, 2011

Posted by Raja Stationery in Peluang Bisnis.
trackback

Sejak dulu kala kota Ambon terkenal dengan kekayaan laut yang indah dan rempah-rempah nan berlimpah. Selain itu, Ambon juga terkenal sebagai daerah penghasil sekaligus pengonsumsi sagu. Sagu menjadi bahan pangan favorit para penduduk Ambon Manise.

Sagu diolah oleh tangantangan terampil menjadi beragam makanan. Dari tepung hingga menjadi bubur. Salah satunya adalah Yohanna Sihasale. Sejak tahun 2005, dia merintis usaha berbendera KUB Mama. Dari tangan Yohanna dan lima pekerjanya, KUB Mama mengolah sagu menjadi aneka produk makanan olahan.

Produk makanan ringan olahan sagu dari KUB Mama ini terbagi menjadi dua jenis, yakni kue basah dan kue kering. Beberapa varian kue basah andalannya, adalah bruder, brownis, sebra, dan roll cake tuna.

KUB Mama juga menyediakan beberapa kue kering, yakni sagu kenari, sagu keju, sagu tuna, sagu kacang, sagu kismis, sagu putri salju, dan sagu spekulas. “Kami kombinasikan bahan baku lain dengan sagu,” katanya.

Produk Yohanna sudah terkenal di pasar lokal hingga di luar Ambon. Produknya hadir di beberapa toko suvenir dan oleh-oleh di kota Ambon, yang juga menawarkan makanan khas Maluku. Yohana mengatakan, banyak konsumen di kota tersebut yang membeli langsung produk ke rumahnya.

Lantaran sangat terkenal, Yohanna pernah mendapat undangan dari Freddy Numberi semasa menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan untuk berpartisipasi pada seminar ilmiah tentang sagu di Yogyakarta. Padaacara tersebut, Yohanna memperkenalkan produk olahan sagu KUB Mama.

Prestasi lainnya, adalah KUB Mama pernah memasok sajian kue kering dan kue basah pada perayaan Natal di Kedutaan Besar Jerman di Jakarta pada tahun 2008. Produk KUB Mama juga telah sampai ke Jakarta, Surabaya, dan Bali. “Saya juga biasa melayani pesanan dari kantor gubernur untuk oleh-oleh para tamunya,” kata dia.

Selama ini, KUB Mama rata-rata mampu meraup omzet Rp 15 juta saban bulannya. Perolehan ini dari hasil penjualan sekitar 100 potong kue basah dan 300 stoples kue kering. “Kalau ada event di Ambon, omzet kami bisa meningkat sampai Rp 50 juta per bulan,” ujar Yohanna.

Dia membanderol kue basah maupun kue kering tersebut seharga Rp 50.000 per kemasan. Untuk kemasan kue kering, dia menggunakan stoples plastik berkapasitas 500 gram. KUB Mama juga menawarkan produk dalam kemasan khusus berisi enam toples aneka kue kering seharga Rp 390.000.

Dari total omzet tersebut, Yohanna menikmati keuntungan bersih 30%-40%. Selain biaya produksi dan menggaji lima karyawannya, dia juga harus menanggung biaya kemasan yang lumayan besar.

Harga kemasan kue di Ambon tergolong mahal. Para pengusaha di Ambon, termasuk Yohanna, masih mendatangkan kemasan dari Jakarta atau Surabaya. “Biaya kirimnya yang mahal, karena kami belum bisa mendatangkan kemasan dalam jumlah yang terlalu banyak,” kata Yohanna.

Untuk bahan baku, Yohanna mengaku tidak terlalu sulit mencari tepung sagu di Ambon. Adapun bahan baku yang digunakan adalah sagu kering yang telah digiling menjadi tepung sagu. Dia bilang, mengolah sagu itu mudah karena tepung sagu memiliki kandungan air yang cukup rendah.

Pesona makanan olahan sagu tak hanya terkenal di Ambon. Masyarakat di Pulau Jawa pun ternyata menyukai produk olahan sagu, terutama kuekering sagu keju. Peminat kue kering dengan kombinasi rasa asin dan manis tersebut amat tinggi.

Ini terlihat dari penjualan produk Ina Cookies, yang terkenal dengan produk kue keringnya. Nah, sagu keju termasuk dalam 10 kue kering favorit yang sering dipesan oleh konsumen Ina Cookies.

Bahkan, Chandik, Distributor Utama Ina Cookies, mengatakan, pamor kue sagu bersanding dengan kue kering favorit. Seperti kastengel, nastar, atau putri salju yang telah tersohor di kalangan konsumen.

Apalagi, lanjutnya, kuekering sagu keju bisa diibaratkan camilan wajib yang mesti disajikan saat bulan puasa. “Peminatnya tinggi, sampai-sampai kue yang dalam keadaan rusak karena guncangan saja tetap diburu orang,” katanya.

Tiap bulan, Chandik yang membawahi sekitar 100 agen dan lebih dari 50 distributor, itu mampu menjual sekitar 200 lusin kue kering sagu keju. Ina Cookies menawarkan produk tersebut dalam kemasan stoples plastik seberat 500 gram.

Untuk harga per stoples, Chandik bilang, tergantung dari lokasi agen atau distributor. Hanya, dia mencontohkan, di kawasan pusat kota Jakarta, seperti Sudirman dan sekitarnya, harga kue kering sagu keju berkisar antara Rp 60.000 sampai Rp 90.000. “Kalau di Kupang atau Sorong, harganya bisa mencapai Rp 125.000 per stoples,” imbuhnya.

Ina Cookies menggunakan bahan pilihan. Bahan utama, yakni sagu dipasok dari produsen sagu asal Bogor. Sementara keju dipasok dari produsen keju ternama. Semua ini untuk menjaga kualitas rasa kue itu. (peluangusaha.kontan.co.id)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: