jump to navigation

Laba Kripik Tidak Setipis Potongan Kripik Desember 31, 2010

Posted by Raja Stationery in Tips Bisnis.
trackback

keripik singkongTipisnya irisan keripik singkong bukan berarti pelaku usaha makanan ringan ini punya keuntungan yang tipis. Cemilan merakyat ini mempunyai pangsa pasar besar dan menjanjikan keuntungan besar, selama produsen mampu menjaga kualitas dan memasarkan produknya dengan baik.

Salah satu contoh sukses usaha olahan ketela pohon ini adalah Kripik Singkong Wijaya yang dikelola Hajah Aminah (70) dari dapur rumahnya.

Usaha yang dilakukan dari dapur rumah di Jl Wijaya Barat RT3/RW3 Kelurahan Pagentan Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang ini sudah berlangsung 30 tahun, dan terus mengalami peningkatan omzet.

Saat ini, dengan dibantu lima anggota keluarganya, Aminah dalam sehari sedikitnya mampu mengolah dua kuintal singkong mentah untuk dijadikan sekitar 60 kg keripik singkong matang.

Dengan harga jual Rp 5000 setiap setengah kilogramnya, dan setiap hari 60 kg keripik matang terjual habis, uang yang masuk ke kantong Aminah sebesar Rp 600.000. Tentu saja ini belum dipotong biaya produksi yang tidak lebih dari 35 persen.

Omzet Aminah menjadi lebih besar karena proses produksi dan pengolahan tidak hanya dilakukan di tempatnya saja, namun ditambah dengan lima tempat produksi lain. Yakni ibu-ibu tetangga Aminah.

Janda 10 anak ini, memang memberi kesempatan ibu-ibu sekitar untuk mendapatkan penghasilan tambahan, dengan memberi kesempatan ikut memproduksi keripik,-tentunya setelah diajari cara membuatnya-.

“Setelah matang, mereka setor ke saya. Dan saya yang menjualkan dengan merek Wijaya. Jangan khawatir dengan rasa, karena dipastikan sama, karena satu resep,” kata Aminah yang masih luwes dan lincah membantu proses produksi meski sudah memasuki usia 70 tahun.

Dari hasil berbisnis keripik, selain bisa menyekolahkan ke-10 anaknya dan membuat rumah. Ia dan suami, Ahmad Hanafi (almarhum) juga bisa menunaikan ibadah haji.

Menurut Aminah, sukses keripik buatannya terletak pada kerenyahan dan rasa keripik yang berubah sejak kali pertama ia membuatnya sekitar tahun 1978 silam.

Berbeda dengan keripik singkong bertabur gula manis yang dijual di rombong kaki lima atau keripik singkong kemasan bagus yang saat ini marak dijual di gerai supermarket, keripik Wijaya memiliki rasa gurih asin dengan sedikit aroma bawang putih. Selain itu, keripik memiliki warna putih seperti halnya singkong mentah.

Pengolahan

Pengolahan singkong hingga menjadi keripik juga cukup sederhana. Setelah dikupas bersih, singkong direndam di air beras selama satu malam. Selanjutnya, singkong diiris dan direndam air bumbu yang terdiri bawang putih dan garam. Kemudian, keripik mentah direbus hingga matang. Proses berikutnya kripik dijemur hingga kering sebelum proses akhir digoreng.

Sukses Kripik Wijaya bermula saat Aminah muda berpikir mengenai bagaimana mendapatkan uang tambahan dari rumah. Terlebih saat itu, Aminah muda, yang bersuamikan seorang guru madarasah sudah memiliki tujuh orang anak.

Awalnya, Aminah memilih membuat aneka jajanan pasar. Namun karena ribet dan butuh waktu serta bahan baku yang banyak membuatnya keterampilan membuat kue basah dipinggirkannya. Ide membuat keripik kemudian muncul, setelah melihat salah satu kerabat membuat keripik singkong dan kemudian memasarkannya secara kecil-kecilan dengan menitipkan di toko-toko kecil.

“Selain itu, saya melihat bahan baku singkong cukup mudah didapat dan murah. Sementara proses produksinya juga gampang,” tutur Aminah.

Ketika itu, bermodal singkong satu karung seharga Rp 175, minyak goreng satu liter dan satu kompor, Aminah memulai usahanya. Nama Wijaya, yang merujuk nama jalan rumahnya kemudian dilekatkan sebagai merek dagang.

Jika ada yang berminat, mencoba usaha ini, Aminah secara terbuka menerima siapapun yang ingin belajar darinya mengenai teknik membuat keripik dan resep yang dimilikinya. (surya.co.id)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: