jump to navigation

Duo Halim membesarkan usaha dengan modal kepercayaan Desember 27, 2010

Posted by Raja Stationery in Inspirasi Bisnis.
trackback

Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Tamsil itu tepat menggambarkan duo bapak–anak Halex Halim dan Petrus Halim, pengendali Intraco Penta. Berawal dari usaha dagang, kini, Intraco menjadi salah satu pemain besar alat berat.

Di bisnis peralatan berat untuk konstruksi dan pertambangan, nama PT Intraco Penta Tbk sudah cukup kondang. Selain menjual, perusahaan itu juga menyewakan dan menyalurkan pembiayaan untuk alat berat. Tahun lalu, pendapatan Intraco hampir mencapai Rp 2 triliun.

Di balik sukses bisnis Intraco, ada dua sosok penting, yakni Halex Halim dan Petrus Halim. Bapak–anak ini berhasil membesarkan bisnis mereka hingga mampu jadi salah satu pemain alat berat terbesar di negeri ini.

Dahulu, Halex tak pernah terpikir bakal jadi pengusaha besar. Pria kelahiran Palembang, 23 Februari 1941, ini adalah anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Liem Ket Eng dan Hong I Moy yang menafkahi keluarganya dari berjualan sepeda dan bengkel becak. “Kondisi keuangan yang terbatas membuat saya harus puas berhenti sekolah selulus SMP,” kisah Halex.

Halex tumbuh dari keluarga bermental pedagang. Sejak sekolah, ketiga kakaknya sudah membuka bengkel suku cadang mobil. Ketika berusia 20 tahun, ia memberanikan diri mengadu nasib ke Jakarta dan ikut mengelola bisnis suku cadang mobil.

Suatu ketika, seorang kerabat memperkenalkan bisnis suku cadang alat berat. “Saat itu, Indonesia sedang mulai membangun,” kenang Halex. Memang, di era 70-an, pembukaan konsesi hutan, tambang, hingga pembangunan perkotaan sedang gencar. Bapak empat orang anak ini berkisah, pada 1970, beberapa alat berat seperti traktor mulai masuk Indonesia.

Meski tak memiliki bekal cukup di bisnis ini, keempat bersaudara Halim terjun ke bisnis suku cadang alat berat lewat UD Intraco. Tiga tahun pertama, Halex mengaku kewalahan mengendalikan bisnis. “Kami hanya bisa mengimpor, tapi buta pasar dan tidak tahu memasarkan,” ujar Halex. Selama periode itu, Halex dan ketiga saudaranya mengaku menghidupi diri dari sisa tabungan.

Baru sekitar 1974, Intraco menemukan pasar yang tepat di Kalimantan. Pada 1975, Halim bersaudara mengajak seorang adik bergabung dan mengganti nama perusahaan jadi PT Intraco Penta. Nama Penta mengandung arti lima orang bersaudara.

Dari awalnya berdagang suku cadang, sejak 1980, perusahaan berkembang ini menjadi distributor alat berat Clark dan crane P&H. Intraco Penta juga menjadi agen tunggal alat berat Volvo. “Waktu itu, kami tidak ada pengetahuan seputar Volvo, namun mereka terus melatih hingga kami mampu,” kisah Halex.

Itulah sebabnya, Halex yakin, prinsip terpenting dalam mengembangkan perusahaan adalah menjaga kepercayaan. Karenanya, ia tak ragu memperbaiki produk yang rusak serta jujur dalam menawarkan produk.

Beralih generasi

Pada 1992, Intraco Penta mengakuisisi NV PD Pamitran. Setahun berselang, pada tahun 1993, Halex memandang Intraco harus berkembang secara profesional. Karena itu, kelima bersaudara Halim mencatatkan saham Intraco di lantai bursa.

Secara perlahan, Halex mulai mempersiapkan anak keduanya, Petrus Halim, untuk mengurus bisnis keluarga. Petrus dilahirkan di Jakarta tahun 1970. Tahun 1994, Petrus menyelesaikan studinya di California State University dan Boston University.

Selulus kuliah, Petrus bekerja sebagai asisten manajer risiko di Departemen Kredit Citibank NA Jakarta. Tahun 1996, ia mulai magang di Intraco sebagai manajer keuangan.

Selama proses adaptasi, Petrus memiliki pengalaman menarik. Tahun 1997, ia dan Willy Rumondor, yang kini menjadi Direktur Pemasaran Intraco Penta, melakukan survei ke tambang PT Aneka Tambang Tbk di Pongkor, Bogor.

Ketika itu, Petrus dan Willy mengendarai articulated hauler Volvo alias truk pengangkut berisi sampel hasil tambang. Sampel ini diperkirakan bernilai Rp 400 juta. Sehabis survei, hujan deras membuat jalan licin. “Articulated hauler terbalik dan Pak Willy mengalami luka serius,” kisah Petrus. Namun, ia tak kapok dan tetap keluar masuk hutan untuk survei hingga saat ini.

Posisi Petrus sebagai Direktur Keuangan teruji ketika Intraco menghadapi krisis 1997. Kala melihat gelagat rupiah cenderung melemah, ia memilih hedging beli dollar di Rp 2.635 per dollar AS. Intraco mengeksekusi haknya saat kurs dollar AS Rp 12.000 per dolar AS sehingga meraup untung besar.

Dari untung hedging itu, Intraco bisa membayar utang di saat perusahaan lain kolaps. Tak hanya itu. Intraco menambah karyawan dari 400 orang jadi 1.300 orang. Intraco juga berinvestasi US$ 2,5 juta untuk menerapkan sistem teknologi informatika SAP. “Benar-benar berkat Tuhan,” ujar Petrus.

Petrus mengaku banyak belajar berkerja keras dan nilai kejujuran dari sang ayah yang kini duduk sebagai Komisaris Utama Intraco. Petrus sendiri menjadi presiden direktur. Di tangan kedua orang ini, tahun lalu, Intraco meraup pendapatan Rp 1,9 triliun. Tahun ini, Intraco menargetkan pendapatan sebanyak Rp 2,7 triliun.

Sumber : peluangusaha.kontan.co.id


Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: