jump to navigation

Bisnis Instan Dengan Waralaba Desember 30, 2010

Posted by Raja Stationery in Tips Bisnis.
trackback

Anda atau suami Anda pernah minum kopi instan? Tanpa menambah gula atau susu, tinggal seduh, secangkir kopi siap diminum.

Begitupun dengan usaha. Mirip dengan kopi instan, usaha instan adalah usaha yang tinggal Anda menjalankan saja, tak perlu punya pengetahuan bisnis yang rumit seperti pemasaran, promosi, stok barang dan sebagainya. Semua telah disediakan dalam satu paket yang bisa dibeli dengan harga tertentu. Usaha jenis ini disebut dengan usaha dengan sistem franchise atau waralaba.

Usaha instan sangat praktis, karena kita tidak perlu ribet seperti membuka usaha yang betul-betul dari nol. Seorang teman saya yang berniat membuka usaha pencucian mobil misalnya, harus mempersiapkan banyak hal sendirian, mulai dari lokasi, peralatan, tenaga kerja, serta melakukan promosi agar dikenal oleh masyarakat. Belum lagi setumpuk persiapan lainnya. Wah, kalau dibuat daftarnya, ada lebih dari 20 jenis pekerjaan yang harus ia lakukan dalam membuka usaha. Cukup banyak dan – percayalah – sangat memusingkan.

Dengan sistem waralaba, urusan jadi mudah. Anda bisa punya usaha tanpa harus dibingungkan dengan masalah teknis usaha mulai dari pembukaan sampai dengan menjalankannya. Sebab beberapa franchisor atau pemilik awal dari usaha tersebut akan memberikan kiat-kiat mulai dari memulai usaha, menjalankannya serta mempromosikannya. Bahkan Anda bisa menggunakan nama usaha tersebut yang – seringkali – sudah sangat terkenal.

ADA UANG, ADA BARANG
Sekilas, membuka usaha dengan sistem waralaba terlihat mudah, ya. Tinggal siapkan uang, usaha Anda sudah jadi dan Anda tidak perlu coba-coba menjalankannya. Bahkan, untuk Anda yang belum pernah buka usaha pun, waralaba memungkinkan Anda untuk tetap memiliki usaha karena beberapa franchisor memberikan juga bimbingan kepada sang pemilik dan bantuan operasional sebelum Anda siap memulainya sendiri.

Tapi seperti kata pepatah, ada harga ada barang. Salah satu konsekuensi dari membuka usaha dengan sistem franchise adalah bahwa Anda perlu menyediakan dana yang – buat sebagian orang – cukup besar untuk bisa mengambil franchise. Harga tersebut berkisar dari Rp 3 juta sampai dengan tidak terbatas, bahkan miliaran. Nah seperti saya utarakan di atas, tentunya fasilitas yang diberikan oleh franchisor seharga miliaran biasanya sih jauh lebih bagus dari yang Rp 3 juta.

Selain itu, usaha dengan sistem waralaba biasanya tidak membolehkan Anda untuk berinovasi dengan menjalankan hal-hal di luar yang sudah disarankan. Misalnya, kalau franchisor bilang bahwa usaha tersebut harus memasang plang yang lokasinya di sini atau di situ, maka Anda harus nurut. Kalau Anda memasang plang di luar dari apa yang sudah diharuskan, bisa kena sangsi (seperti peringatan atau pencabutan izin franchise-nya). Ya, karena Anda membuka usaha yang merknya biasanya sudah dikenal masyarakat, jadi wajar kalau mereka tidak ingin image usahanya berubah hanya karena Anda sebagai salah satu pengambil waralabanya menjalankan sistem pemasaran yang berbeda. Jadi, untuk Anda yang ingin berinovasi sambil menjalankan usaha, waralaba bukan tempatnya. Anda tidak bisa bebas berimprovisasi, bahkan beberapa franchisor sangat ketat tentang hal ini dimana sampai masalah jenis kertas tissue pun mereka yang tentukan.

COCOK TAK COCOK
Tak perlu bingung untuk memutuskan mengambil waralaba atau tidak. Kalau Anda memang mau usaha, sistem ini memang memberikan banyak kemudahan dan – harus diakui – risikonya cukup rendah dibandingkan dengan membuka usaha sendiri, walaupun ada juga beberapa kelemahannya.

Jadi kesimpulannya, usaha dengan sistem waralaba biasanya bagus untuk Anda yang :
1. Tidak pernah punya pengalaman usaha tapi ingin menjalankan usaha untuk yang pertama kalinya,
2. Tidak mau direpotkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan operasional atau teknis dalam membuka usaha,
3. Tidak mau mengambil risiko terlalu tinggi,
4. Punya dana yang cukup.

Sebaliknya, sistem ini tidak cocok buat Anda yang :
1. Dananya tidak begitu besar,
2. Ingin mengembangkan usaha tapi sesuai dengan keinginan pribadinya,
3. Tidak mau didikte dan diatur orang lain
4. Siap menerima risiko yang lebih besar.

Jadi mana yang Anda pilih? Jujur, sebetulnya tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Sebab sebagus apapun sebuah sistem dibuat untuk menjalankan usaha, tapi kalau yang menjalankan usaha itu tidak mampu dan tidak serius, maka percuma saja. Jadi, kalau Anda ingin usaha, yang penting adalah keseriusan Anda dalam menjalankannya. Bukan begitu? (tabloidnova.com)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: